Bitcoin Koreksi ke Bawah US$90.000, INDODAX: Tensi Geopolitik Global Picu Aksi Jual

- Penulis

Rabu, 21 Januari 2026 - 10:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta | CYberxpost.com Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah dan turun ke bawah level psikologis US$90.000 pada perdagangan Rabu (21/1), seiring meningkatnya tensi geopolitik dan aksi jual di pasar aset berisiko. Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap eskalasi perang tarif Amerika Serikat (AS) terhadap Eropa, yang dikaitkan dengan tekanan Washington kepada Denmark agar mempertimbangkan kembali kendalinya atas Greenland, serta gejolak di pasar obligasi Jepang yang memicu sentimen risk-off secara luas. Rabu, (21/1/26).

Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin sempat menyentuh kisaran US$87.000 sebelum bergerak fluktuatif. Tekanan tidak hanya terjadi di pasar kripto, tetapi juga meluas ke pasar saham global. Indeks utama Wall Street, termasuk S&P 500 dan Nasdaq, ditutup melemah lebih dari dua persen, sementara imbal hasil obligasi pemerintah bergejolak dan harga emas melonjak sebagai aset lindung nilai.

Menanggapi kondisi ini, Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai pergerakan ini mencerminkan keterkaitan kripto yang semakin erat dengan dinamika makroekonomi dan geopolitik global. “Dalam situasi seperti ini, Bitcoin tidak berdiri sendiri. Ketika pasar global masuk ke fase risk-off akibat ketegangan geopolitik, kebijakan perdagangan, dan tekanan di pasar obligasi, aset berisiko cenderung mengalami koreksi secara bersamaan akibat aksi jual.” ujar Antony.

Menurut Antony, kepanikan jangka pendek kerap muncul ketika investor global berusaha menyeimbangkan ulang portofolio investasi mereka di tengah ketidakpastian. Hal ini terlihat dari meningkatnya volatilitas, lonjakan volume perdagangan, serta tekanan di pasar derivatif kripto. “Yang perlu dicermati adalah bahwa pergerakan ini lebih didorong oleh faktor eksternal, bukan perubahan fundamental di ekosistem Bitcoin dan kripto. Dinamika suku bunga, likuiditas global, dan arah kebijakan geopolitik saat ini menjadi variabel utama yang memengaruhi harga.” lanjutnya.

Baca Juga:  Pajak Kripto Tembus Rp1,96 Triliun, INDODAX Soroti Peran Strategis Industri terhadap Negara

Ia menambahkan bahwa sejarah pasar kripto menunjukkan fase koreksi tajam sering kali beriringan dengan guncangan makro, terutama ketika Bitcoin semakin diperlakukan sebagai bagian dari aset global oleh investor institusional. “Partisipasi institusi membuat Bitcoin lebih responsif terhadap isu global. Ini adalah konsekuensi dari maturasi pasar, di mana kripto semakin terintegrasi dengan sistem keuangan global,” kata Antony.

Meski demikian, Antony menekankan bahwa volatilitas tetap menjadi karakter inheren pasar kripto. Investor, menurutnya, perlu memahami konteks pergerakan harga secara menyeluruh dan tidak semata melihat fluktuasi jangka pendek. “Periode seperti ini menegaskan pentingnya perspektif jangka panjang dan pemahaman risiko. Pasar kripto akan terus bergerak mengikuti arus global, dan ketahanan investor diuji justru saat ketidakpastian meningkat,” tutup Antony.

Antony menekankan bahwa volatilitas tinggi seringkali memicu perilaku fear of missing out (FOMO) di kalangan investor. Dalam situasi seperti ini, ia menilai penting bagi pelaku pasar untuk tetap disiplin melakukan do your own research (DYOR), memahami risiko, serta tidak mengambil keputusan investasi berdasarkan tekanan emosi jangka pendek di tengah ketidakpastian global.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel cyberxpost.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bandar Sabu “Bendera Baru” Seolah Kebal Hukum! Satres Narkoba Diminta Sikat Habis Tanpa Pandang Bulu Dan Tanpa “Bendera-benderaan”
Menjemput Aspirasi Warga, Anggota DPRD Provinsi Riau Mengelar Reses di Kulim Pekanbaru
Galian C Tanah Urung Ilegal Di Langgini Masih Lancar Beroperasional Tanpa Tersentuh Hukum
GMPKK Kepulauan Nias Berikan Kepercayaan Kepada Kanit PPA dan Penyidik Baru, Berharap Kasus Pembunuhan Agnis Jance Zebua Segera Terungkap
Disnaker Kabupaten Pelalawan Terbitkan Anjuran Atas Perselisihan PHK (Galiduhu Buulolo) Dengan PT Inti Indosawit Subur (IIS) Ukui
Rekor MURI 10.080 Bertanjak Siap Diwujudkan, Kodam XIX / Tuanku Tambusai Dukung Kenduri Akbar Melayu Nusantara
IMELDA SAMSI SE Resmi Di Berhentikan, DPP GRIB JAYA Memperkuat Pernyataan DPD GRIB JAYA Riau
HAK JAWAB Atau SANGGAHAN RESMI
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 13:46 WIB

Bandar Sabu “Bendera Baru” Seolah Kebal Hukum! Satres Narkoba Diminta Sikat Habis Tanpa Pandang Bulu Dan Tanpa “Bendera-benderaan”

Minggu, 2 Agustus 2026 - 09:32 WIB

Menjemput Aspirasi Warga, Anggota DPRD Provinsi Riau Mengelar Reses di Kulim Pekanbaru

Jumat, 31 Juli 2026 - 21:10 WIB

Galian C Tanah Urung Ilegal Di Langgini Masih Lancar Beroperasional Tanpa Tersentuh Hukum

Jumat, 31 Juli 2026 - 19:15 WIB

GMPKK Kepulauan Nias Berikan Kepercayaan Kepada Kanit PPA dan Penyidik Baru, Berharap Kasus Pembunuhan Agnis Jance Zebua Segera Terungkap

Jumat, 31 Juli 2026 - 19:12 WIB

Disnaker Kabupaten Pelalawan Terbitkan Anjuran Atas Perselisihan PHK (Galiduhu Buulolo) Dengan PT Inti Indosawit Subur (IIS) Ukui

Berita Terbaru