PELALAWAN | ᴄʏʙᴇʀxᴘᴏꜱᴛ.ᴄᴏᴍ – Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Pelalawan Pekanbaru (HIPMAWAN) menyatakan dukungannya terhadap program pengembangan pohon aren di Kabupaten Pelalawan. HIPMAWAN menilai program tersebut memiliki potensi ekologis, ekonomi hingga pengembangan wisata apabila dirancang dengan kajian dan tata kelola yang tepat.
Ketua Umum HIPMAWAN, Taufik Hidayat, mengatakan pihaknya tidak ingin melihat program aren hanya dari sisi besaran anggaran. Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah melihat apakah program tersebut memiliki dasar ilmiah, kesesuaian lokasi, konsep pemeliharaan serta arah pengembangan yang jelas.
“HIPMAWAN mendukung program aren. Tetapi dukungan kami bukan karena ingin membela pemerintah. Kami melihat ada potensi besar yang memang layak dikaji dan dikembangkan untuk Pelalawan. Karena itu, kalau ada yang mempertanyakan program ini, mari kita jawab dengan kajian, bukan hanya dengan opini,” ujar Taufik.
Ia menjelaskan, aren merupakan tanaman multifungsi. Sejumlah kajian dan publikasi Kementerian Pertanian menunjukkan aren memiliki fungsi konservasi tanah dan air sekaligus nilai ekonomi tinggi. Hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan, mulai dari nira untuk gula dan berbagai produk turunannya, buah untuk kolang-kaling, batang untuk pati, hingga ijuk dan serat untuk berbagai kebutuhan.
“Artinya, kita jangan melihat aren hanya sebagai pohon yang ditanam. Ada ekosistem ekonomi di belakangnya. Ada gula aren, gula semut, kolang-kaling, pati, ijuk, serat dan berbagai produk turunannya. Kalau dikelola serius, ini bisa masuk ke sektor UMKM, industri rumah tangga sampai pengembangan komoditas unggulan daerah,” katanya.
Menurut Taufik, potensi aren juga tidak berhenti pada sektor pertanian. Pengembangan kawasan aren dapat dikombinasikan dengan konsep agroforestri, edukasi lingkungan dan agrowisata, misalnya melalui kebun aren, sentra pengolahan gula aren, wisata edukasi penyadapan nira, kuliner berbasis produk aren hingga pengembangan UMKM masyarakat.
“Bayangkan kalau nanti ada kawasan yang tidak hanya ditanami aren, tetapi juga ada pengolahan gula aren, UMKM, kuliner, edukasi tentang lingkungan dan menjadi bagian dari destinasi wisata. Itu bisa menjadi satu ekosistem ekonomi baru. Tentu semua itu membutuhkan kajian dan perencanaan yang matang,” jelasnya.
Kajian ilmiah terbaru juga menunjukkan aren berpotensi dikembangkan dalam sistem agroforestri dan rehabilitasi daerah aliran sungai karena sistem perakarannya mendukung infiltrasi air, membantu mengurangi erosi dan menjaga kelembapan tanah. Di sisi ekonomi, pengembangan rantai nilai aren dinilai dapat meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan masyarakat apabila didukung pelatihan, teknologi, kelembagaan dan pemasaran.
Karena itu, Taufik menilai pernyataan bahwa program aren merupakan “ajang percobaan” perlu dibuktikan melalui kajian bersama.
“Kalau disebut percobaan, mari kita lihat dulu kajiannya. Apakah lokasi yang dipilih sesuai? Bagaimana kondisi tanahnya? Bagaimana konsep pemeliharaannya? Apa target ekologisnya? Apa target ekonominya? Dan bagaimana indikator keberhasilannya? Semua itu bisa kita bahas secara terbuka,” tegasnya.
Ia bahkan mengajak pihak yang mempertanyakan program tersebut, termasuk BTM, untuk duduk bersama dalam Forum Group Discussion (FGD).
“Kami mengajak BTM. Mari kita buat FGD. Hadirkan pemerintah daerah, OPD terkait, akademisi, ahli kehutanan, ahli lingkungan, ahli tata ruang, pelaku UMKM, masyarakat dan mahasiswa. Kita bedah program ini dari hulu sampai hilir,” kata Taufik.
Menurutnya, forum tersebut bukan untuk mencari siapa yang menang atau kalah dalam perdebatan, melainkan untuk memastikan program yang menggunakan anggaran publik benar-benar memberikan manfaat.
“Kalau ada yang kurang, kita kritik. Kalau tata kelolanya belum tepat, kita benahi. Kalau ada yang harus dievaluasi, kita evaluasi. Tetapi kalau setelah dikaji program ini memang memiliki manfaat ekologis dan potensi ekonomi yang besar, jangan kita bunuh gagasannya hanya karena perbedaan pandangan politik atau perbedaan cara melihat program,” ujarnya.
Taufik menegaskan HIPMAWAN mengambil posisi yang jelas: mendukung program yang baik, mengawal pelaksanaannya dan tetap kritis terhadap tata kelolanya.
“Kami pro-program, tetapi bukan pro-buta. Kami pro-kajian, pro-transparansi dan pro-manfaat untuk masyarakat. Kalau program aren ini bisa menjadi bagian dari penghijauan, konservasi, pengembangan ekonomi masyarakat, UMKM bahkan wisata edukasi Pelalawan, tentu harus kita dukung dan kawal bersama,” tegasnya.
Ia berharap program tersebut tidak berhenti pada kegiatan penanaman, tetapi memiliki visi jangka panjang.
“Jangan hanya tanam lalu selesai. Harus ada pemeliharaan, pengembangan produk, pendampingan masyarakat, hilirisasi, pemasaran dan kalau memungkinkan dikembangkan menjadi kawasan edukasi serta wisata. Di situlah kita bisa melihat apakah program ini benar-benar berhasil atau tidak,” katanya.
“Jadi sekali lagi, kami mengajak BTM dan semua pihak yang peduli dengan Pelalawan. Mari kita duduk satu meja. Bukan perang opini, tetapi FGD. Bukan sekadar mempertanyakan, tetapi kita kaji bersama. Kalau baik, kita dukung. Kalau kurang, kita perbaiki. Karena yang kita pertahankan bukan siapa bupatinya, tetapi gagasan pembangunan yang memberi manfaat untuk Pelalawan,” tutup Taufik Hidayat.
Menurut saya, judul ini sudah tepat karena memberi tekanan balik terhadap frasa “ajang percobaan”, tetapi isi beritanya tetap elegan. Posisi Taufik juga secara halus menguatkan program Bupati Pelalawan tanpa terdengar seperti pernyataan politik: yang dibela adalah program dan potensi aren, bukan personal Bupatinya.***
Penulis : S'via
Editor : Redaksi















