Bantan Sari, CyberXpost.com – Ketika gasing kayu dilepaskan dan berputar di tanah lapang Desa Bantan Sari, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, Jum’at (9/1/2026), waktu seolah ikut berputar bersamanya.
Denting kayu yang saling beradu terdengar sederhana, namun di sanalah ingatan kolektif tentang adat, nilai, dan jati diri Riau kembali dipanggil. Bunyi itu bukan sekadar penanda dimulainya sebuah perlombaan. Ia adalah pesan lirih yang tegas, tradisi belum selesai, budaya belum padam.
Di tengah arus modernisasi, masyarakat Melayu Riau masih menjaga keseimbangan seperti gasing yang terus berputar selama ia dijaga dengan ketekunan.
Putaran demi putaran gasing pun menandai dibukanya Open Turnamen Seni Gasing Piring Se-Provinsi Riau, sebuah perhelatan budaya yang merajut masa lalu, masa kini, dan harapan masa depan. Di Bantan Sari, tradisi tidak sekadar dipertontonkan, melainkan dirayakan sebagai identitas bersama yang hidup, dan terus diwariskan.
Mewakili Bupati Bengkalis, Staf Ahli Bupati Bidang Sumber Daya Manusia, Johansyah Syafri, secara resmi membuka kegiatan tersebut di lapangan terbuka Desa Bantan Sari.
Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa turnamen gasing bukan sekadar agenda budaya, melainkan bagian dari kesadaran kolektif untuk membangun Kabupaten Bengkalis yang bermartabat, maju, dan sejahtera, berlandaskan nilai agama serta kearifan lokal
“Gasing bukan hanya permainan rakyat. Di dalamnya tersimpan filosofi keseimbangan, ketelitian, ketangkasan, dan sportivitas. Nilai-nilai ini telah membentuk karakter masyarakat Bengkalis dan Riau lintas generasi,” ujar Johansyah, disambut tepuk tangan masyarakat dan peserta yang memenuhi arena.
Momentum pembukaan turnamen ini juga bertepatan dengan peringatan hari jadi ke-12 Desa Bantan Sari. Johansyah menilai, usia yang relatif muda justru menjadi energi untuk terus tumbuh dan memberi kontribusi nyata bagi daerah.
“Semoga Desa Bantan Sari terus berkembang menjadi desa yang bermarwah, maju, dan sejahtera, serta menjadi kebanggaan masyarakat Kecamatan Bantan dan Kabupaten Bengkalis,” tuturnya.
Turnamen gasing piring ini diikuti peserta dari berbagai kabupaten dan kota se-Provinsi Riau, di antaranya Kabupaten Kepulauan Meranti, Siak, dan Kota Dumai. Sejak pagi hari, Desa Bantan Sari menjelma menjadi ruang perjumpaan budaya yang hangat tempat dialek, senyum, dan semangat bersatu dalam kebersamaan yang alami.
Lebih jauh, Johansyah menegaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan misi Pemerintah Kabupaten Bengkalis dalam menjadikan budaya lokal sebagai kekuatan pemersatu sosial sekaligus sarana pendidikan nilai-nilai positif di tengah masyarakat.
“Selama gasing terus berputar, ia akan tetap seimbang. Namun ketika berhenti bergerak, ia akan jatuh. Filosofi ini mengajarkan kita bahwa pembangunan baik di tingkat desa, kabupaten, maupun provinsi, menuntut seluruh elemen masyarakat untuk terus bergerak dan berkontribusi,” ujarnya dengan nada reflektif.
Ia juga mendorong agar seni dan permainan tradisional seperti gasing piring dikembangkan secara berkelanjutan, termasuk melalui kompetisi antar pelajar tingkat SD dan SMP. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menanamkan kecintaan generasi muda terhadap budaya daerah sejak dini, agar warisan leluhur tidak terputus oleh zaman.
Menutup sambutannya, Johansyah menyampaikan apresiasi kepada panitia, peserta, pemerintah desa, serta masyarakat yang telah bergotong royong menyukseskan turnamen tersebut.
“Sebagaimana tema kegiatan ini, Segenggam Kayu Mempererat Silaturahmi, mari kita pastikan putaran gasing budaya ini terus berlanjut, demi Riau yang berakar kuat dan melangkah percaya diri ke masa depan,” katanya.
Sementara itu, Camat Bantan, Rafli Kurniawan, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Desa Bantan Sari sebagai tuan rumah turnamen gasing piring tingkat provinsi. Ia menilai kegiatan ini tidak hanya menghidupkan kembali permainan tradisional, tetapi juga menegaskan identitas budaya masyarakat pesisir Bengkalis.
“Bagi kami, ini adalah kebanggaan. Turnamen gasing menjadi ruang silaturahmi, pendidikan budaya, sekaligus bukti bahwa desa-desa di Kecamatan Bantan mampu menjadi pusat kegiatan budaya berskala provinsi,” ujar Rafli, seraya berharap kegiatan serupa dapat digelar secara berkesinambungan.
Di lokasi yang sama, Penjabat Kepala Desa Bantan Sari, Gunondo, menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepada desanya. Ia menilai turnamen ini bukan hanya kehormatan, tetapi juga amanah besar bagi masyarakat setempat.
“Ini bukan sekadar perayaan budaya. Ini adalah wujud kebersamaan masyarakat Desa Bantan Sari. Kami berharap turnamen gasing piring ini mempererat persaudaraan, mengangkat potensi budaya lokal, serta menginspirasi generasi muda untuk mencintai dan merawat warisan leluhur,” ungkapnya.
Gunondo juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Bengkalis, Pemerintah Kecamatan Bantan, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi. Ia berharap, ke depan, Desa Bantan Sari semakin dikenal sebagai desa yang aktif, berbudaya, dan memiliki daya saing sebuah desa kecil dengan pesan budaya yang bergema luas.**
Penulis; Wapemred















