Toba | cyberxpost.com – Politik Adu Domba (divide et impera) merupakan bentuk manuver politik dengan penekanan pada klaster sosial. Sering kali muncul dari pihak atau kelompok elit (karena mereka mempunyai daya dalam menjalankan strategi politiknya) untuk memecah belah suatu komunitas, kelompok, atau tatanan masyarakat kecil dengan tujuan masyarakat/kelompok kecil tersebut tidak menjadi besar untuk mengurangi ancaman bagi mereka kedepannya.
Atmosfer gerakan yang digaungkan masyarakat Toba baik dari daerah di sekitar kawasan TPL yang terdampak langsung, maupun dari aliansi masyarakat Toba yang berada di luar daerah terus berdatangan.
Namun ditengah perjuangan masyarakat untuk mendapatkan dukungan dalam hal menuntut dan menutup TPL, masih banyak pihak pihak yang menganggap gerakan ini sebagai gerakan yang sia sia, bahkan tak sedikit dari masyarakat secara pribadi menyampaikan dukungan nya kepada perusahaan yang terafiliasi dengan April group tersebut.
Dukungan yang diberikan dari pihak pihak tertentu ini bagai perlawanan yang mematikan bagi gerakan Masyarakat yang sudah mulai kuat dan kokoh, alih alih bersatu, mereka menganggap TPL sebagai perusahaan yang menghidupi keluarga nya dengan memberikan mereka pekerjaan, polemik ini semakin memanas dikarenakan banyak pihak yang ingin menutup TPL ini merasa sangat marah dengan pernyataan tersebut yang tidak mengedepankan azas kepentingan bersama melainkan kepentingan pribadi.
Praktik-praktik seperti ini tentunya menimbulkan persentase perpecahan masyarakat yang relatif tinggi karena semua pihak saling beradu argumen dengan strategi yang tidak mendasar (bahkan menjurus kepada praktik-praktik negative “Adu Domba”)
Hal ini mengakibatkan iklim yang tidak kondusif karena akan terjadi pengkhianatan yang dapat menyebabkan perpecahan kelompok Masyarakat.
Gerakan dukungan terhadap TPL ini semakin masif dan tersebar dimana mana, bahkan pada hari rabu 29 Oktober, massa aksi yang mengatasnamakan mereka sebagai pendukung TPL terang terangan melakukan aksi demo terhadap efhorus di tarutung, dalam tuntutan aksi mereka meminta agar efhorus saat ini diganti karena telah memberikan pernyataan yang mengadu domba yang menginginkan TPL agar segera ditutup untuk karena terlalu banyak merugikan masyarakat.
Menurut pengamatan di lapangan, saat ini masyarakat benar benar telah diadu domba oleh perusahaan TPL , mereka menjadikan masyarakat sebagai pekerja mereka dan sebagai tameng mereka, alhasil ketika massa aksi melakukan demo penutupan TPL, mereka akan dihadapkan dengan masyarakat sekitar, sehingga timbul perpecahan yang luar biasa.
Editor: Ridho Sitorus















